Menu Click to open Menus
Home » Hukrim » Tarif Sepihak Pada Importir, Vendor Anak Perusahaan PT. Pelindo 3 Terindikasi Lakukan Pungli Secara Sistemik

Tarif Sepihak Pada Importir, Vendor Anak Perusahaan PT. Pelindo 3 Terindikasi Lakukan Pungli Secara Sistemik

(413 Views) Mei 2, 2017 3:11 pm | Published by | No comment

Surabaya|AWASnews.com – Dugaan Praktik Pungutan Liar di Tubuh PT.Akara Multi Karya (AMK).vendor dari Anak perusahaan PT.Pelindo III makin menguat, setelah Tim JPU Kejaksaan Tanjung Perak menghadirkan Satu saksi lagi dari salah satu karyawan perusahaan Importir.

Saksi Achmad Kusairi menerangkan di muka persidangan/Foto.dok.Junaedi

Achmad Kusairi (37) Saksi yang pernah melaporkan Agusto Hutapea. bos dari PT.Akara Multi Karya ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, atas dugaan praktik Pungli (pungutan Liar). dihadirkan sebagai Saksi di Pengadilan Negeri Surabaya, selasa, (02/5/17).

 

Karyawan dari perusahaan Importir PT. Chelsia Pratama ini melaporkan PT.AMK. ke Polres Pelabuhan Tanjung perak, Surabaya. karena di anggap menyalai prosedur. sewaktu barang atau kontainernya masih di berada di negara Singapore, namun perusahaanya oleh PT.AMK sudah di tagih dengan satu invoice sebesar 250 ribu rupiah.

 

Dirinya mengaku terpaksa membayar tarif sejumlah uang yang di tetapkan PT. AMK karena takut barangnya tidak bisa keluar dari terminal petikemas surabaya. ” saya bayar 500 ribu untuk 40 vit sesuai invoice dari PT. Akara” papar Kusairi, (2/5/17).

 

Praktik Pungutan yang dilakukan PT.AMK terhadap para importir sendiri terindikasi sebagai tarif ilegal yang ditentukan secara sapihak oleh management PT.AMK, tanpa merujuk akan ketentuan peraturan kementrian perhubungan.senada dengan yang di katakan Catrine, bahwa PT.AMK tidak mensosialisaaikan besaran tarif terhadap importir.

 

” tidak, tidak pernah disoaialisasikan ” papar Catrine SH, salah satu dari tim JPU kejari Tanjung Perak Surabaya pada awasnews.com.(2/5/17).

 

Walau tidak disebutkan nominal akan besaran tarif didalam peraturan menteri Perhubungan. pasal 15 dalam permenhub Nomor (6). Tahun 2013 sendiri pada intinya menjelaskan, agar pihak pengelola TPS, dalam menentukan besaran tarif tersebut haruslah disosialisasikan terlebih dahulu kepada organisasi-organisasi Importir, dan harus disosialisasikan dan disepakati juga oleh para Importir selaku pengguna jasa.

 

Faktanya, pihak dari PT.AKM sendiri tidak pernah mensosialisasikan besaran nominal tarif yang harus dibayarkan oleh para pengguna jasa. Akibatnya, para importir tersebut menganggap, bahwa besaran tarif yang ditentukan oleh PT.AMK. adalah tarif yang sudah ditentukan oleh otoritas pelabuhan. yang mau tidak mau harus dibayar.

 

Namun salah satu tim kuasa hukum dari Agusto Hutapea, Robert Simangunsong. Tetap bersikeras dengan dalih bahwa dalam permenhub tidak ada penentuan nominal nilai rupiahnya.

 

” tidak ada rupiahnya disitu, bisa di lihat tuh Undang-undang ada rupiahnya gak disitu. Di Indonesia di pelabuhan mana ada ditentukan tarifnya” seloroh robert.

 

Robert juga menayakan kepada Saksi (Kusairi.red) seputar keterangan saksi sewaktu di BAP Oleh pihak penyidik,bahwa Siapa yang memaksa dirinya membayar sejumlah uang di PT. AMK. Dengan tegas Kusairi mengatakan tidak ada yang memaksa.

 

” saya tidak pernah mengatakan dipaksa, tapi terpaksa, karena yang menentukan tarif adalah pihak PT.Akara” papar nya.

 

Diterangkan juga oleh kusairi akan keterlibatan pihak karantina. dalam praktik pungutan liar tersebut. yang secara tidak langsung telah merekomendasikan PT. AMK selaku biro jasa “penguasa blok W ” di area terminal petikemas yang wajib dirujuk dalam proses pemeriksaan barang dan pengambilan sampel barang.serta proses segel menyegel.

 

” Yang mengarahkan ke blok W pihak karantina, iya arahan dari Karantina ” jawab Kusairi saat ditanya Majeleis Hakim yang diketuai Djainuri SH.

 

Dari dugaan praktik pungutan liar tetsebut PT. Akara mendapat omzet delapan ratus sampai satu milyar per bulan dengan hasil keuntungan bersih mencapai 150-200 juta. Yang di bagi-bagi dengan empat orang terdakwa lain nya, Yaitu David Hutapea, Firdiat Firman, Rahmat Satria dan Agusto sendiri. dengan masing-masing orang mendapat jatah 25% , [ Jun ]


Berita Terkait

Tags: ,
Categorised in:

No comment for Tarif Sepihak Pada Importir, Vendor Anak Perusahaan PT. Pelindo 3 Terindikasi Lakukan Pungli Secara Sistemik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.