Menu Click to open Menus
Home » Opini » JPU Sebut Pembelaan Kuasa Hukum Terdakwa Soejono Candra Mengada-ada

JPU Sebut Pembelaan Kuasa Hukum Terdakwa Soejono Candra Mengada-ada

(258 Views) Desember 15, 2017 2:03 am | Published by | No comment

SURABAYA (ANC) – Jaksa penuntut umum Catrine Sunita menanggapi pembelaan dari kuasa hukum terdakwa Soejono Candra sebagai upaya pembelaan yang mengada -ada, membias serta tidak berdasarkan fakta hukum dalam pokok perkara dan unsur pidana yang didakwakan.

Tak sampai disitu, Catherine juga menyebut bahwa kuasa hukum terdakwa hanya mencari-cari alasan pembenar demi kepentingan klien sehingga menghalalkan segala cara tanpa memiliki dasar argumen yang berlandaskan hukum.

Penilaian tersebut dituangkan dalam Nota replik (tanggapan) yang dibacakan JPU  saat gelar sidang di pengadilan negeri Surabaya Kamis, (14/12/16).

” Alasan Seperti ini sering digunakan oleh kuasa hukum untuk kepentingan klien menghalalkan segala cara dan terkesan mengada ada dan tidak berdasarkan hukum” ujar Jaksa yang kesehariannya bertugas di kejaksaan Negeri Perak Surabaya itu.

Mohon kepada majelis hakim, tambah Catherine ” yang menangani perkara ini. Menolak semua dalil pembelaan dari kuasa hukum terdakwa, dan menjatuhkan hukuman pidana sebagaimana tuntutan JPU yang dibacakan sebelumnya ” Imbuhnya.

Hal senada juga dikatakan Emil Salim penasihat hukum saksi korban Lie Soekoyo yang mengatakan akan pembelaan dari kuasa hukum terdakwa telah menyimpang dari fakta persidangan, bahkan memuat pendapat subyektif yang penuh retorika.

Diketahui dalam sidang sebelumnya, kuasa hukum dari Soejono Candra menolak semua dakwaan serta tuntutan JPU yang menuntut terdakwa dengan tuntutan selama 2 tahun penjara.

Ade berdalih bahwa dakwaan maupun tuntutan JPU memuat konstruksi hukum rekayasa yang penuh muatan kriminalisasi terhadap kliennya.

Selain itu, melalui kuasa hukumnya. Terdakwa tidak mengakui telah menerima uang sebesar 660 juta dari saksi korban Lie Soekoyo. Terdakwa Juga mengingkari akte no 9 terkait perjanjian jual beli yang telah ia tandatangani beserta akte no 11 tahun 2006 tentang kesepakatan pengosongan rumah.

” Terdakwa tidak terbukti seperti apa yang telah didakwakan maupun dalam tuntutan JPU, Bahwa JPU telah merekayasa ,Memohon kepada majelis hakim untuk Membebaskan terdakwa dari segala dakwaan dan tuntutan hukum dari Jaksa Penuntut Umum ” Ujar Ady, Kuasa hukum terdakwa membacakan Nota pembelaannya kala itu.

Kasus yang menyeret Soejono Candra sebagai pesakitan di pengadilan negeri Surabaya ini bermula dari obyek tanah dan bangunan yang ada di Sidoarjo.

Terdakwa Sojono Candra kala itu berniat meminjam uang pada saksi korban, Lie Soekoyo.2004 silam, Dengan Alasan bahwa rumahnya bakal segera disita oleh pihak Bank Artha Graha, kalau tidak segera melunasi hutang-hutangnya, namun korban tidak mau kalau hanya meminjami uang.

Akirnya terdakwa menjual rumahnya yang beralamat di Perum Unimas blok. C, Waru Sidoarjo. kepada korban Lie Soekoyo Dengan kesepakatan harga sebesar 660 Juta rupiah. Dengan sarat, bahwa terdakwa meminta terhadap Korban untuk tidak menjual rumah tersebut kepada pihak lain sampai dengan jangka waktu dua tahun, Karena beralasan akan dibeli kembali oleh terdakwa.

Atas alasan tersebut korban merasa kasihan lantas mengiyakan.

Sampainya batas waktu yang dijanjikan. terdakwa tak kunjung membeli rumah yang sudah ia jual tersebut, sampai Akirnya tanggal 29 November 2006 korban mendatangi terdakwa untuk mengesahkan Jual beli Karena tidak bisa menepati janji – janji harapannya untuk kembali membeli rumah yang pernah ia jual itu.

Timbullah Akte pernyataan Jual beli Nomer 9 tahun 2006 yang disertai akte kuasa jual Nomer 10 tahu 2006, antara Soejono Candra dengan Lie Soekoyo dihadapan Notaris Sugiharto. tak hanya itu, untuk biaya pengosongan rumah, juga tertuang dalam akte Nomer 11 tahun 2006 bahwa Soejono Candra telah menerima uang sebesar 25 juta dari saksi korban Lie soekoyo, untuk biaya pengosongan rumah.

Sesampainya batas waktu yang dijanjikan, yakni tanggal 30 November 2006. Terdakwa tidak segera Mengosongkan rumahnya sehingga korban merasa dirugikan sebesar 685 juta.

Korban pun Akirnya melaporkan perkara tersebut ke Polrestabes Surabaya, bahkan sampai kasus ini bergulir dipersidangan. korban masih belum bisa menguasai obyek dari rumah yang ia beli.

Terpisah, istri terdakwa yakni yen jet ha, Mengklaim kalau suaminya tersebut tidak pernah menjual rumah yang dimaksud dalam akte jual beli, dengan berdalih bahwa akte tersebut adalah akte kerja sama usaha alat berat buldoser.

Bahkan melalui kuasa hukumnya terdakwa pernah melakukan upaya hukum praperadilan akan status tersangka yang pernah disematkan oleh penyidik Polrestabes Surabaya.

Kendati demikian, upaya hukum praperadilan tersebut kandas setelah Hakim memutuskan bahwa penetapan tersangka pada Soejono Candra adalah sah Sesuai dengan prosedur hukum. Karena unsur pidana pada pasal 378 KUHP yang diterapkan oleh penyidik berikut bukti-bukti sudah terpenuhi@*Man


Berita Terkait

Tags: ,
Categorised in:

No comment for JPU Sebut Pembelaan Kuasa Hukum Terdakwa Soejono Candra Mengada-ada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.