Menu Click to open Menus
Home » Hukrim » Membingungkan!!! Vonis Bebas Hakim Ane Kontra Dengan Pertimbagannya Sendiri

Membingungkan!!! Vonis Bebas Hakim Ane Kontra Dengan Pertimbagannya Sendiri

(304 Views) Januari 13, 2018 7:07 am | Published by | No comment

SURABAYA (AWASnews.com) – Dalil pertimbangan pada Vonis bebas yang dijatuhkan ketua majelis hakim Ane Rusiana pada terdakwa kasus penipuan dan penggelapan Soejono, pada Kamis (11/1) dinilai kontra dengan point dalam pertimbangan nya sendiri.

Hal itu dinyatakan oleh Emil Salim,kuasa hukum dari saksi korban Lie Sokeoyo yang juga turut hadir dalam gelar sidang pembacaan putusan kasus penipuan dan penggelapan uang senilai 685 juta tersebut.

” aneh, kasus ini mengesampingkan bukti dan fakta -fakta dalam jalannya persidangan, ironisnya putusan majelis hakim kontra dengan dalil pertimbangan sendiri.” Ujar Salim saat dihubungi, Sabtu (13/1).

Menurut Salim, dalam pertimbangannya,hakim memuat materi bahwa dakwaan kasus penipuan dan pengelapan ini bukanlah kasus pidana melainkan perkara “perdata murni” karena adanya akte perjanjian pengikatan jual beli dan akte kuasa jual.

Namun Disisi lain, hakim Ane menyatakan bahwa dakwaan kasus penipuan dan penggelapan yang disertakan bukti PPJB dan juga akte kuasa jual tersebut bukanlah perkara jual beli atau perdata, karena belum melakukan proses administrasi lanjutan yakni pembuatan akte jual beli (AJB).

karena proses transaksi tersebut belum dibuatkan akte jual beli (AJB) sehingga obyek SHM tanah dan bangunan itu oleh Ane dinyatakan secara sah masih milik terdakwa Soejono Candra.

” bingung kan, ini hakim perkara pidana tapi menyatakan sah dan tidaknya jual beli, bahkan hak kepemilikan suatu obyek, ini kemana korelasinya?? kok membias kemana-mana. Harusnya cukup fokus pada peristiwa hukumnya, perbutannya, nilai kerugiannya, dan unsur unsur pidanana dalam dakwaan pasal 372 dan 378 KUHP.” Ujar Salim.

Dalil hukum perdata yang dipaksakan untuk mematahkan dakwaan dalam peristiwa hukum pidana maupun unsur pokok pasal yang telah diuraikan JPU tersebut menjadi kontra bahkan membingungkan isi putusan.

Menurut Salim, Obyek utama dalam perkara ini adalah uang 685 juta, saksi korban Lie Soekoyo telah tergerak hatinya untuk menyerahkan uang pada Soejono Candra untuk Obyek yang tidak pernah dapat ia kuasai.bahkan uang senilai 660 juta itu digunakan oleh terdakwa untuk menghapus hutang-hutangnya di Bank Arta Graha.

Lebih jauh Hakim Ane menyatakan terkait akte pengosongan Nomer 11 tahun 2006 yang dibuat dihadapan notaris sugiharto adalah perkara Wanprestasi istilah ingkar janji dalam Acaa hukum perdata.

Dalam pembacaan putusan perkara pidana penipuan dan penggelapan uang milik saksi korban Lie Sokeoyo tersebut Ane mematahkan dakwaan jaksa penutut Unum dengan dalil-dalil hukum perdata yang ia korelasi kan dengan ake PPJB dan juga Akte Kuasa Jual.

Vonis tersebut bersebrangan debgan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cathrine Sunita. Yang Dalam sidang sebelumnya, telah menuntut terdakwa Soejono Candra dengan tuntutan selama 2 tahun hukuman penjara.

Dalam surat tuntutannya, (JPU) menyatakan, Bahwa perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur pidana dalam Pasal 378 KUHP, tentang tindak pidana Penipuan.

Menurut JPU, terdakwa terbukti dengan maksud mengutungkan diri secara melawan hukum, dengan tipu muslihat atau rangkaian kebohongan, mengelabui orang lain untuk memberi hutang maupun menghapus piutang secara melawan hukum. Karena tak puas dengan vonis bebas tersebut JPU langsung menempuh upaya hukum Kasasi.

Dalam surat dakwaan yang disusun Jaksa Kartika Nova Dian Kusuma, terdakwa Soejono Candra dalam dakwaan pertama kesatu dijerat dengan pasal 378 KUHP, dakwaan pertama kedua melanggar pasal 372 KUHP, dakwaan kedua primer melanggar pasal 266 ayat (1) KUHP, dakwaan kedua subsidair melanggar pasal 264 ayat (1) ke-1 Jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Terdakwa juga didakwa melanggar pasal 264 ayat (1) ke-1 Jo Pasal 56 ke-1 KUHP dalam dakwaan kedua lebih subsider.

Perbuatan terdakwa Soejono Candra itu terjadi 30 November 2006 bertempat di Jalan Bubutan No. 117 Surabaya.

Awalnya, tanggal 13 Juni 2004 terdakwa Soejono Candra menemui Lie Soekoyo dirumahnya dengan maksud dan tujuan untuk meminjam uang ke Lie Soekoyo, tetapi Lie Soekoyo tidak mau.

Selanjutnya terdakwa meminta Lie Soekoyo untuk membeli rumahnya yang berada di Perum Unimas Garden Blok C-8 RT. 004 RW. 009 Desa Waru Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo, dengan kesepakatan harga Rp. 660 juta.

Waktu menemui Lie Soekoyo, terdakwa beralasan bahwa rumah miliknya itu akan disita Bank Artha Graha Surabaya dan terdakwa Soejono Candra meminta supaya rumahnya itu jangan dijual ke orang lain dalam jangka waktu dua tahun. Setelah dua tahun, terdakwa mengatakan akan membeli kembali rumah tersebut.
Karena merasa kasihan, Lie Soekoyo sepakat membeli rumah terdakwa dan mengikuti kemauan terdakwa.

Kemudian, tanggal 14 Juni 2004 Lie Soekoyo bersama Mei Pangestu (istri Lie Soekoyo) dan Anton Eko Lianto (anak Lie Soekoyo) pergi ke Bank Artha Graha Surabaya untuk bertemu dengan terdakwa. Setelah bertemu dengan terdakwa, Lie Soekoyo memberika uang tunai kepada terdakwa sebesar Rp. 660 juta, disaksikan Mei Pangestu dan Anton Eko Lianto. Selanjutnya, terdakwa masuk ke bank untuk mengurusi pelunasan sedangkan saksi Lie Soekoyo menunggu di luar.

Beberapa waktu kemudian terdakwa keluar dari bank lalu menemui Lie Soekoyo lalu memberikan roya, bukti pelunasan bank dan sertifikat rumah ke Lie Soekoyo. Setelah itu, Lie Soekoyo pulang bersama Mei Pangestu dan Anton Eko Lianto.

Dua tahun kemudian, tanggal 29 November 2006, terdakwa menemui kembali Lie Soekoyo dirumahnya, menyampaikan keinginannya untuk mengesahkan jual beli rumahnya karena tidak sanggup membeli rumahnya kembali dan untuk pengesahan jual beli tersebut, terdakwa dibantu notaris Sugiharto untuk membuatkan akta-aktanya.

Selanjutnya, tanggal 30 November 2006 Lie Sokoyo bersama dengan istrinya dan anaknya menuju kantor notaris Sugiarto di Jalan  Bubutan No. 117 A Surabaya. Lie Soekoyo  bersama istrinya, masuk ke kantor notaris Sugiarto, sedangkan Anton Eko Lianto menunggu di dalam mobil. Pada saat itu, Lie Soekoyo melihat terdakwa Soejono Candra dan istrinya yang bernama Yen Jet Ha telah berada di kantor notaris tersebut.

Kemudian terjadi pembicaraan antara terdakwa dengan Lie Soekoyo mengenai jual beli rumah sehingga notaris Sugiarto membuatkan Akta Pernyataan Jual Beli No. 9 tanggal 30 November 2006 dengan nilai jual tertulis Rp. 660.125.000, dan Akta Kuasa Jual No. 10 tanggal 30 November 2006.

Selain itu, dalam pembicaraan antara Lie Soekoyo dengan terdakwa, terdakwa juga meminta tambahan uang sebesar Rp. 25 juta.

Terdakwa mengatakan pada saksi korban Lie Soekoyo, bahwa uang tersebut digunakan untuk biaya transportasi perabotan rumah tangga saat pengosongan rumah dan terdakwa berjanji akan menggosongkan rumah dalam tenggang waktu tiga tahun mulai tanggal 30 November 2006 sampai tanggal 30 November 2009.

Untuk itu dibuatlah juga Akta Pengosongan Rumah No. 11, tanggal 30 November 2006. Dengan adanya akta tersebut, Lie Soekoyo merasa yakin akan janji terdakwa sehingga Lie Soekoyo tidak keberatan untuk memberikan uang senilai Rp. 25 juta sebagai biaya pengosongan rumah.

Setelah uang senilai Rp. 25 juta itu diserahkan pada terdakwa Soejono Candra, terdakwa sampai lewat batas waktu yag ditentukan yaitu 30 November 2009 berkelit dan tidak mau melakukan pengosongan rumah. Akibatnya, Lie Soekoyo merasa ditipu dan dirugikan oleh terdakwa sehingga melaporkan kejadian itu pada Polisi.

Dari Pihak Terdakwa sendiri membantah bahwa ia tidak pernah melakukan transaksi jual beli Rumah dengan saksi korban Lie Soekoyo, melainkan perjanjian kerjasama pembelian alat berat buldoser. Hal itu yang membuat perkara ini masih menjadi tanda tanya dan membuat opini yang membias di hadapan publik.@Man/Jn


Berita Terkait

Tags: ,
Categorised in:

No comment for Membingungkan!!! Vonis Bebas Hakim Ane Kontra Dengan Pertimbagannya Sendiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.