Menu Click to open Menus
Home » Hukrim » Gelapkan Uang 35 Miliar, Kanjeng Dimas Kembali Digiring Ke Pengadilan

Gelapkan Uang 35 Miliar, Kanjeng Dimas Kembali Digiring Ke Pengadilan

(106 Views) Agustus 15, 2018 10:23 am | Published by | No comment

AWASNEWS.COM — Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng kembali digiring keruang sidang Pengadilan Negeri Surabaya untuk diperiksa atas dakwaan penipuan dan penggelapan uang senilai 35 miliar, Rabu (15/8/18).

” Perbuatan terdakwa diancam pidana dalam Pasal 378 KUHP Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.” Ujar Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hari Basuki.

Pada sidang kali ini JPU Kejati Jatim itu juga menunjukkan beberapa barang bukti berupa tumpukan mata uang pecahan euro dan real yang dimasukkan dalam beberapa koper dan kardus.

Selain mata uang euro dan real, terdapat juga mata uang dolar sebanyak 42 boord (bendel) pecahan 10 dolar zimbabwe dengan nilai mencapai 60 miliar.

Namun ironisnya, pecahan dolar Zimbabwe itu sudah tidak berlaku lagi. ” Kerugian korban dalam perkara ini mencapai 35 miliar ” Kata JPU Hari Basuki.

Korban yang dimaksud JPU ialah, Muhammad Ali dan Asmui Abbas.

Rentetan perkara ini berawal sekitar tahun 2013 silam. Saat itu Asmui Abbas ditawari sebuah kantong ajaib oleh salah seorang santri Dimas Kanjeng yang bernama Kurdi.

Abbas saat itu terlena dengam ucapan Kurdi, karena kantong ajaib yang dimaksud dikatakan dapat mendatangkan uang secara gaib. Dan untuk mendapatkan kantong tersebut Abbas dimintai Mahar sebesar 60 juta.

Asmui Abbas yang kala itu sudah menjadi santri Dimas Kanjeng, kemudian mengajak Muhammad Ali untuk ikut gabung menjadi santri Taat Pribadi alias Kanjeng Dimas.

Muhammad Ali Tergiur Tawaran Santri Kanjeng Dimas

Pada tahun 2014, Salah seorang santri Dimas Kanjeng yang bernama Nor Hadi menawarkan program padepokan Dimas Kanjeng pada Muhammad Ali, Program yang dimaksud Nor Hadi adalah proyek pembangunan Pondok Pesantren, Rumah Sakit dan Penampungan untuk anak yatim piatu.

Untuk meyakinkan program tersebut, Norhadi menyodorkan Nama-nama pengurus yayasan padepokan Dimas Kanjeng yang terdiri dari berbagai elemen termasuk dari golongan TNI/Polri.
Bahkan ketua Yayasan itu dipegang langsung oleh Mantan Politikus Golkar Marwah Daud yang juga anggota DPR-RI.

Marwah Daud/dan Kanjeng Dimas

Untuk menjalankan program tersebut, Muhammad Ali disuruh menutup kekurangan anggaran proyek sebarar 10 Miliar.

Untuk memuluskan Aksinya, Nor Hadi lalu menggunakan Hj. Suharti untuk mempertemukan korban dengan terdakwa Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Dusun Cangkelek RT. 022, RW. 008 Wangkal Gading Kab. Probolinggo Prov Jawa Timur.

Hj Suharti menerangkan pada Korban Muhammad Ali, bahwa padepokan Dimas Kanjeng didirikan untuk kemaslahatan umat, legalitas padepokan sah secara hukum dengan menunjukkan dokumen seperti akte pendirian yayasan, susunan kepengurusan, visi misi padepokan, dan lain-lain.

Bahkan Muhammad Ali oleh terdakwa Dimas Kanjeng Taat Pribadi juga ditunjukkan gambar orang-orang penting yang foto bersama terdakwa yaitu terdiri dari Kapolri, Jaksa Agung, ada beberapa menteri.

Melihat semua itu, Muhamad Ali mulai menaruh kepercayaan pada Kanjeng Dimas dan memberikan kekurangan mahar yang tadinya 10 miliar hingga bertambah sampai 35 miliar.

Uang senilai 35 miliar itu diberikan secara bertahap oleh Muhammad Ali pada Kanjeng Dimas, Untuk meyakinkan Korban Kanjeng Dimas juga memberikan jaminan berupa dua buah koper yang berisi uang, masing – masing koper berisi mata uang euro dan real senilai Rp. 60 Milyar.

Selain Koper berisi tumpukan uang usang, Mohammad Ali juga diberi sebuah keris berbentuk tongkat warna kuning emas oleh Kanjeng Dimas.

Keris tersebut menurut Dimas Kanjeng, adalah petunjuk dari maha gurunya supaya dapat menngsukseskan Program itu.

Merasa tak kunjung terealisasi , korban akhirnya melaporkan Dimas Kanjeng pada Polisi.@Jun


Berita Terkait

No comment for Gelapkan Uang 35 Miliar, Kanjeng Dimas Kembali Digiring Ke Pengadilan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.