Menu Click to open Menus
Home » Opini » Miris, Suku Bajo Sebagai Simbol Eksistensi Warga Pesisir Makin Terpuruk

Miris, Suku Bajo Sebagai Simbol Eksistensi Warga Pesisir Makin Terpuruk

(140 Views) Agustus 31, 2018 5:51 am | Published by | No comment

BONE,AWASNEWS.COM-Suku Bajo sebagai Simbol Eksistensi Warga Pesisir yang Semakin Terpuruk

Kategori dikenal sebagai suku yang tinggal di perairan laut, nasib Suku Bajo dimasa kini ternyata belum sebaik yang dibayangkan publik.

Keberadaannya di Kelurahan Bajoe Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Sulawesi-Selatan, yang notabene adalah yang bisa kawasan wisata terkenal sekarang, ternyata masih serba kekurangan.

Gambaran tersebut juga dilihat saat salah satu warga yang bernama Sri Rahayu S.pd yang akrab disapa Bu Ayu mengunjungi perkampungan Suku Bajo di Kelurahan Bajoe, pekan lalu.

Perempuan asal Kota Watampone yang selama ini menjadi Kepala Desa paling ujung barat Kabupaten Bone tepatnya di Desa Mattiro Walie dikurung lebih 2 periode, dia terpaku mendapati perkampungan pesisir itu minim dari segala fasilitas yang dibutuhkan.

Di antara fasilitas yang masih sangat minim itu, adalah fasilitas kesehatan beserta tenaganya untuk melayani tenaga pendidikan warga bajo yang tinggal di perkampungan tersebut.

Selain itu, masalah kebersihan sangat terlihat belum baik di perkampungan nelayan yang terletak di kawasan pantai Bajo Bone Sulawesi-selatan, Sampah-sampah yang berserakan dibawa kolom dan halaman rumah warga yang tak terurus.

“Hal ini sangat butuh perhatian pemerintah guna mengedukasi warga Suku Bajo agar timbul kesadarannya.

Tujuannya, agar warga bisa merasakan kebersihan lingkungan dan menghirup kembali udara yang bersih.

Keberadaan sampah, diketahui sudah sejak lama ada di perkampungan Suku Bajo.

Kondisi itu Sri Rahayu merasa sangat perihatin untuk setelah melakukan kunjungan silaturahim dengan warga suku bajo, rencananya akan berkunjung kembali kekampung bajo. Ungkapnya perihatin

Kunjungannya yang akan untuk lebih mempererat hubungan silaturahim bagaikan orangtua dan anak. Kata Ayu

“Sri Rahayu mengaku tergerak hatinya karena merasa miris melihat perkampungan nelayan yang menjadi simbol masyarakat pesisir di Nusantara.

Agar perkampungan Suku Bajo bisa lebih bersih dan kesehatan lebih baik, pada kunjungan kedua dan seterusnya bisa membawa angin segar bagi warga suku bajo tersebut.

Ketua Kerukunan Suku Bajo (KKSB) Sultan kepada Awaa.com sangat berterima kasi atas kehadiran Sri Rahayu dalam menyapa kami dan semoga kehadirannya bisa membawa Suku Bajo yang baik kedepan.

“Sultan juga berharap adanya pengadaan kontener sampah dari Dinas terkait yang disediakan sekitar tanggul pesisir pantai Bajo, dia juga adanya fasilitas pendidikan khusus warga Suku Bajo mulai TK dan SD saja.

Dia juga sangat berharap adanya pengembangan pemukiman, kenapa tidak menurutnya dalam satu rumah terkadang dihuni 2 Kepala Keluarga bahkan sampai 5 KK. Harapnya perhatian pemerintah

Penulis: Idrus


Categorised in:

No comment for Miris, Suku Bajo Sebagai Simbol Eksistensi Warga Pesisir Makin Terpuruk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.