Menu Click to open Menus
Home » Nasional » IPAC Merilis “Bualan” Pelaku Bom Gereja Surabaya Dimotivasi Hadits

IPAC Merilis “Bualan” Pelaku Bom Gereja Surabaya Dimotivasi Hadits

(57 Views) Oktober 20, 2018 4:29 pm | Published by | No comment

AWASNEWS.COM — Institut Analisis Kebijakan Tentang Konflik (IPAC) merilis bualan tentang Dita Oeprianto, Pelaku bom Gereja di Surabaya pada Mei lalu. Dita, dikatakan dalam laporan The Jakartapost, bahwa ia percaya bahwa dunia akan berakhir pada 2018.

Dikatakan dalam laporan itu [The Jakartapost], Dita melakukan serangkaian teror bom bunuh diri karena mempercayai sebuah hadits mengenai akhir dari hari-hari, ketika bintang-bintang akan jatuh dan sebuah meteor akan menghantam bumi, diikuti oleh awan hitam yang akan berlangsung selama setidaknya 40 hari.

Diketahui hadits tersebut merupakan hadits akan tanda-tanda akhir jaman. Namun dijadikan kambing hitam serangkaian serangan mematikan yang dilakukan Dita.

IPAC lalu menghubungkan tentang ceramah Dita pada 2017 silam ke jama’ahnya dengan hadits tersebut. IPAC secara tendensius menuding hadits itu yang memotivasi Dita untuk melakukan serangkaian teror bom bunuh diri di tiga Gereja bersama keluarganya.

Dita, digemborkan sebagai Amir dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya.

Namun demikian, Pimpinan tertinggi JAD Maman Abdurrahman. Mengutuk keras aksi Dita yang melakukan serangkaian teror bom dengan mengorbankan keluarganya.

Sang ayah, Dita Oepriarto dan ibu, Puji Kuswati beserta 4 anaknya. Yang tertua YS (18 tahun), FM (16 tahun), FD (12 tahun) dan yang paling muda bernama FL (9 tahun).

Melalui seorang saksi, Hery, 46 tahun, penjaga keamanan kompleks perumahan keluarga ini, mengungkap satu kejadian yang menggambarkan perasaan salah seorang anak pelaku pengeboman.

Hari masih gelap ketika anak keduanya, FM, melakukan sholat subuh di sebuah masjid dekat rumahnya di pinggiran kota Rungkut, Surabaya.

Hari Minggu (13 Mei 2018), Hery merasakan ada sesuatu yang aneh pada FM. Remaja itu menangis. Melihat anaknya menangis, sang ayah, Dita Oepriarto, 46 tahun, pun mengelus kepalanya dan menepuk pundaknya.

Sepekan yang lalu, pada Minggu pagi, Hery memang datang ke masjid untuk beribadah sebelum dia mulai shift pagi. Dia pun duduk tidak jauh jauh dari Firman dan ayahnya, Dita.

Dalam keheningan fajar, Hery, mendengar percakapan antara ayah dan anak remajanya ini. Sang ayah berbisik, “Bersabarlah… tuluslah…” Namun, lagi-lagi, kata-kata sang ayah tetap saja tidak mampu menghentikan tangisan anaknya. Remaja itu tidak bisa dihibur. Dia terus menangis.

“Sebenarnya saat itu saya ingin bertanya kepada ayahnya, apa masalahnya. Tetapi saya menghentikan niat saya tersebut, karena saya tidak ingin dilihat sebagai orang yang ingin campur tangan dalam urusan orang lain,” kata Hery.

Ketika doa berakhir, Firman, ayah dan kakak laki-lakinya, Yusuf, bangun untuk pulang.

Tidak lama setelah itu, Firman kemudian naik ke sepeda motor bersama kakak laki-lakinya Yusuf, mereka rupanya melaju ke arah gereja Katolik Santa Maria.

Di pintu masuk, seorang jemaat gereja bernama Aloysius Bayu mencoba menghentikan mereka. Ledakan keras meledak pada jam 7.30 pagi waktu setempat.

Lima menit kemudian, ayah mereka mengendarai mobil bermuatan bom menuju ke Gereja Pantekosta Center Surabaya pada pukul 7.35 pagi waktu setempat dan meledakkan bahan peledak.

Tak lama setelah itu, giliran istrinya, Puji dan dua putrinya, ikut melakukan serangan bom di Gereja Kristen Indonesia Diponegoro.

Dalam 10 menit, seluruh anggota keluarga pun tewas. Pemboman bunuh diri di tiga gereja menewaskan 13 orang dan melukai 41 lainnya.

Saat kembali ke rumahnya, Hery pun mendengar berita pemboman tersebut. Dia tercengang. Ketika itu ia pun akhirnya mengetahui alasan di balik mengapa FM menangis – bahwa sebenarnya dia tidak ingin mati.

“Saya rasa, dan saya percaya bahwa sebenarnya anak itu tidak ingin melakukannya, mati sebagai pelaku bom bunuh diri. Jelas tindakan ini memang tidak bisa dibenarkan, menyeret anak-anak ke dalam peristiwa ini,” kata Hery, terdiam ketika sembari menundukkan kepalanya.

Hery merasakan rasa kehilangan yang begitu mengerikan.@ [Jn].


No comment for IPAC Merilis “Bualan” Pelaku Bom Gereja Surabaya Dimotivasi Hadits

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.