Menu Click to open Menus
Home » Opini » Media Lokal Yang Makin Menggurita, Dan Istilah “Nabok Nyilih Tangan” Media Yang Terkooptasi

Media Lokal Yang Makin Menggurita, Dan Istilah “Nabok Nyilih Tangan” Media Yang Terkooptasi

(145 Views) Desember 9, 2018 7:57 pm | Published by | No comment
Spread the love

AWASNEWS.COM — Media-media lokal baik cetak maupun online (Daring) telah merangsek pasar pembaca dengan pesat selama beberapa tahun terakhir.

Pada umumnya, media -media ini didirikan dengan modal dan SDM yang terbatas. Namun demikian, karya Mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Kemampuan menulis wartawannya dan juga militansi dalam mencari dan mengolah berita untuk disampaikan pada pembacanya hampir mendekati performa media berkelas Nasional.

Data yang dihimpun Dewan Pers pada Februari 2018, Indonesia merupakan negara dengan jumlah media terbesar. Terdapat sekitar 47.000 media baik cetak, online, elektronik dan juga Radio. Dari jumlah media sebanyak itu.. 14.000 wartawan dinyatakan telah memenuhi standard sebagai wartawan Profesional.

Di-surabaya misalnya, pada beberapa pekan lalu salah satu organisasi wartawan Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI), menggandeng salah satu lembaga penguji untuk melangsungkan Uji Kompetensi Wartawan (UKW), dengan mayoritas peserta berasal dari wartawan media lokal.

Hal ini membuktikan, bahwa media lokal juga mementingkan profesionalitas wartawannya dalam melakukan pekerjaan. Dan narasi yang selama ini menggambarkan media kecil tidak bisa bertahan akan terpatahkan dengan sendirinya.

Diantara banyaknya media korporasi yang cenderung terkooptasi oleh kepentingan menjelang kontestasi politik, memang kehadiran media media lokal yang militan ini diperlukan untuk menyeimbangkan informasi yang makin liar dan tendensius.

Hampir tiap hari kita disuguhi dengan berita-berita dengan statment Nara sumber yang saling menjatuhkan pribadi, pembunuhan karakter (efeect Demage) secara luas. Nah pada point ini, menurut hemat saya. Berita tersebut sudah tidak layak konsumsi, dan perlu diabaikan.

Alasan pertamanya, berita tersebut selain tidak memiliki value, juga tidak ada nilai urgensinya. Bahkan tidak ada manfaatnya untuk pembaca, Selain hanya termakan opini yang sengaja dibangun dan dibentuk melalui statment “cocote narasumber” demi mencapai kepentingan.

Sampai disini pembaca haruslah telaah terkait berita yang disampaikan media, pertama adalah koreksi pembaca dengan pertanyaan, kenapa wartawan media ini menulis berita seperti ini? Kedua, apa manfaat bagi pembaca? Ketiga, kenapa wawancara si wartawan itu bertanya pada Nara sumber sengaja menanyakan isu itu?

Pertanyaan diatas dipastikan akan dapat menjawab isi berita yang disampaikan wartawan, Walaupun dibingkai atau Framing dengan berbagai cara.

Pada dasarnya, media yang telah terkooptasi dengan kepentingan politik tertentu, mereka tidaklah membawakan informasi peristiwa yang benar-benar memiliki urgensi dan pendidikan pada pembaca, melainkan hanya membangun isu dengan mencari kelemahan dan kesalahan pribadi seseorang yang ingin “digebuk” dengan memanfaatkan nara sumber lain, “Nabok nyilih Tangan”. Isu-isu seperti itu akan menjadi prioritas dihalaman media mereka.@ **

 


Penulis : Junaedi S, aktif di Journalist Cityzen Comunity (JCC) dan juga Badan Pekerja Harian Aliansi Wartawan Seluruh Indonesia (AWASI).

Sumber: Klik Disini


Berita Terkait

Tags: ,
Categorised in:

No comment for Media Lokal Yang Makin Menggurita, Dan Istilah “Nabok Nyilih Tangan” Media Yang Terkooptasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.