Menu Click to open Menus
Home » Opini » Jurnalis Advokasi “Advokasi Atas Nama Prinsip Dan Publik Merupakan Ujian Sejati Jurnalisme”

Jurnalis Advokasi “Advokasi Atas Nama Prinsip Dan Publik Merupakan Ujian Sejati Jurnalisme”

(109 Views) Desember 10, 2018 4:44 am | Published by | No comment
Spread the love

AWASNEWS.COM — Bagi kalangan wartawan peliputan Hukum dan Kriminal kata [Jurnalis Advokasi] bukanlah kata asing, Mungkin sebagian kalangan mengartikan kata itu dengan persepsi dan wacana lain.

Sejatinya yang disebut jurnalis advokasi secara umum bukan hanya wartawan yang melakukan liputan dibidang hukum dan kriminal tapi lebih menyeluruh komprehensif disegala lini.

Suatu artikel berita yang tidak memiliki nilai pndidikan dan advokasi, bagi saya pribadi itu bukan karya jurnalisme. Mengapa begitu, Bukankah advokasi atas nama prinsip dan publik merupakan ujian sejati jurnalisme?

Pilihan yang kita buat tentang apa yang harus ditutupi dan bagaimana kita menutupinya, apa yang perlu diketahui publik dan tidak patut diketahui publik adalah tindakan advokasi atas nama publik.

Ketika seorang editor menugaskan wartawan untuk mengekspos penipuan konsumen atau penipuan atau penyelewengan dana pemerintah, itu adalah advokasi.

Ketika wartawan kesehatan memberi tahu Anda cara menghindari kanker atau bahkan menurunkan berat badan, itu adalah advokasi

Ketika wartawan hukum memberikan informasi seputar kejahatan penipuan, penggelapan, narkoba dan terorisme, disitu ada nilai advokasi dan pendidikan hukum.

Bagaimana dengan stasiun TV, yang mengirim kru atau helikopter untuk memeberi kita pemandangan tentang kebakaran, yang tidak memiliki dampak yang lebih luas daripada beberapa blok di sekitarnya? Apakah itu advokasi? Tidak.

Namun akan menjadi advokasi, apabila tayangan itu diberi penyebab dari kebakaran yang melanda dengan framing seolah menjadi pesan agar pemirsa yang melihat dapat waspada dari penyebab kebakaran tersebut.

Tentu saja ada batasan untuk advokasi. Saat media sudah menjadi organ dari politik dan antek-anteknya dikemas dengan cara bagaimanapun untuk menyampaikan berita, pasti ada narasi yang berbau kepentingan. Dan hal itu tidak perlu ahli media untuk menyimpulkannya.

Mengutip Michael Oreskes, editor top di The New York Times dan kemudian menjadi redaktur Associated Press: “Standar, praktik, dan etika adalah intinya. Tanpa mereka, itu bukan jurnalistik.”

Apakah narasi jurnalistik,buku atau film dapat memberi informasi dan pencerahan?, Jawabannya adalah apabila hal itu tidak membawa informasi yang dapat digunakan orang untuk mengelola kehidupan mereka atau masyarakat dengan lebih baik, saya akan mengatakan itu gagal dalam tes jurnalisme.

Kemandirian dan kejujuran intelektual, etika dan standard kredibilitas kita. Itulah yang mendefinisikan jurnalisme versus sekedar advokasi.

Jurnalisme-sebagai-advokasi telah dibundel sebagai-hiburan untuk alasan ekonomi.

Hiburan dapat menarik orang ke entitas media dan membantu mensubsidi biaya jurnalisme. Tapi itu kesalahan untuk membuka payung jurnalistik atas semua konten yang dibuat dan disebut jurnalisme.

Jika surat kabar menciptakan jurnalisme, maka apakah semua yang diciptakan karyawan diruang berita pada kantor surat kabar itu adalah karya jurnalisme,? Jawabannya, Kita harus mengukur keberhasilan kita dengan seberapa banyak kita telah membantu masyarakat mencapai tujuannya. Dan kita harus memikirkan kembali deskripsi pekerjaan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengisinya

Satu lagi peran bagi para jurnalis untuk dipertimbangkan, yaitu pendidik. Itu tidak berarti kita harus menjadi dosen, melanjutkan aliran satu arah konten yang diarahkan pada audiens pasif. Seorang pendidik sejati memberdayakan siswa untuk bereksperimen, berbagi, dan membangun sendiri, sesuai dengan kemampuan, keinginan, dan kebutuhan mereka. Jadi, setelah memahami kebutuhan individu atau komunitas, jurnalis dan organisasi mereka dapat mengajari orang bagaimana cara memenuhinya.

Jurnalisme layanan telah lama mengajarkan kepada pembaca bagaimana mencapai apa yang mereka inginkan. Contoh bagaimana untuk menggunakan teknologi baru, atau untuk memahami suatu masalah. Apa yang baru adalah bahwa internet menyediakan kita dengan umpan balik yang memungkinkan kita untuk melihat seberapa baik kita berhasil memajukan pengetahuan, pemahaman, dan dampak. Seperti seorang guru yang baik.

Sebelumnya, saya mendefinisikan jurnalisme sebagai membantu komunitas mengatur pengetahuannya untuk mengatur dirinya dengan lebih baik. Sekarang saya mendefinisikan jurnalisme sebagai advokasi.@**

 


Oleh: Junaedi S. Aktif di Journalist Cityzen Comunity (JCC) dan juga Badan Pekerja Harian Aliansi Wartawan Seluruh Indonesia (AWASI).

Sumber: Klik Disini


Berita Terkait

Tags: , ,
Categorised in:

No comment for Jurnalis Advokasi “Advokasi Atas Nama Prinsip Dan Publik Merupakan Ujian Sejati Jurnalisme”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.