Menu Click to open Menus
Home » Hukrim » JPU Hadirkan Ahli Bahasa Terkait Kasus Hoax Saidah Saleh Syamlan

JPU Hadirkan Ahli Bahasa Terkait Kasus Hoax Saidah Saleh Syamlan

(212 Views) Januari 28, 2019 1:59 pm | Published by | No comment
Spread the love

AWASNEWS.COM – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Roginta Sirait dari Kejati Jatim menghadirkan seorang ahli bahasa dan sastra Indonesia dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), pada persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (28/1).

Ahli bahasa tersebut ialah Andik Yulianto, Dia dihadirkan dengan maksud untuk mengurai kasus penyebaran Hoax melalui aplikasi WhatsApp yang dilakukan terdakwa Saidah Saleh Syamlan pada PT. Pismatex.

Saat diminta pendapatnya, Andik Yulianto menerangkan, teks pesan singkat bernada Hoax yang disebarkan oleh Saidah bukan murni sebuah pertanyaan, melainkan bentuk eksplisit dari tata bahasa yang cenderung menyampaikan pemberitahuan yang bersifat informatif.

“Bos…Piye, [artinya Bos Bagaimana], dalam bahasa memang ada wujud fisiknya bertanya. Tapi ada juga yang sifatnya memberitahukan sesuatu bentuknya eksplisit ini kata tanya retorika “kata Andik, menjawab pertanyaan kuasa hukum Saidah.

Andik kemudian menyebutkan bunyi teks utuh pesan Whatsapp yang dibuat oleh Saidah sebagai berikut,

“bozz … piye iku pisma kok tambah ga karu2an ngono siih. Kmrn mitra tenun 100% stop total .. aku di tlp ni mereka, PPT stop juga … ga ono fiber piye paaak Posisi saiki mitra podo kosong … ppt praktis total mandeg greg.. Yo opo pakk.”

Artinya, [Bos Bagaimana itu Pisma kok tambah semrawut gitu sih, Kemarin mitra tenun 100 persen stop total, Aku ditelfoni mereka, PPT stop juga, tidak ada fiber bagaimana pak, posisi sekarang mitra pada kosong. PPT Praktis total Berhenti Grak, Bagaimana Pak”]

Dalam surat dakwaan Penuntut Umum disebutkan, kata tersebut merupakan suatu penghinaan dan pencemaran nama baik, karena yang dimaksud dengan ” pisma ” dalam tulisan terdakwa adalah perusahaan yang bernama Pismatex, sedangkan yang dimaksud dengan PPT adalah PT. Pisma Putra Textile.

Sedangkan menurut pendapat Andik, dalam segi Bahasanya ada kata 100 persen. Kata tersebut dapat diartikan mengandung makna totalitas.

Lalu lanjut dia. Sebelum itu, kalimatnya didahului dengan lontaran kalimat informatif seolah-olah pengirim Whatsapp mengetahui suatu informasi atau keadaan.

“Bos pisma kok tambah nggak karu-karuan”Dalam arti dalam bahasa [Indonesia] nggak karu-karuan, berarti semrawut [dalam makna bidang keuangan atau menejemen].”Terang Andik

Kalimat yang ‘Bos bagaimana ini’ oleh Andik dikaitkan dengan kronologi yang ditemukan oleh penyidik Kepolisian.

“Dalam kronologis itu kan tidak tau siapa yang mengirim kemudian berkaitan dengan kasus ini kemudian berkaitan dengan perusahaan.”Paparnya.

Penuntut Umum Roginta kemudian bertanya, apakah dalam kata-kata itu ada unsur maksud dan tujuan melakukan pencemaran. Andik menjawab dapat, apabila keadaan itu tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.

“Kalau informasi ini ada yang tidak benar, ini dapat mengakibatkan seperti itu [Pencemaran]”Paparnya.

Dalam kasus ini JPU berkeyakinan bahwa terdakwa telah dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan atau mentransmisikan dan membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik yang memiliki muatan penghinaan maupun pencemaran nama baik pada PT. Pismatex, milik Jamal Gozi.

Format Pesan hoax itu menurut JPU, dikirimkan terdakwa secara masif pada beberapa orang, diantaranya ialah Komaruzzaman, Kepala Divisi Syariah Bank Exim Indonesia dan Amerita, yang merupakan General Manager dari Bank BNI Pusat di Jakarta. Sehingga nama baik perusahaan menjadi tercemar.@ [RB]


Berita Terkait

No comment for JPU Hadirkan Ahli Bahasa Terkait Kasus Hoax Saidah Saleh Syamlan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.