Menu Click to open Menus
Home » Hukrim » Sidang Praperadilan Asipah Melawan Polda Jatim Berlanjut Di Pengadilan

Sidang Praperadilan Asipah Melawan Polda Jatim Berlanjut Di Pengadilan

(38 Views) Maret 4, 2019 8:59 am | Published by | No comment
Spread the love

AWASNEWS.COM – Sidang Praperadilan antara Asipah alias Hj Sujiati melawan Polda Jatim berlanjut di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (4/3).

Sidang kali ini adalah sidang ke dua dengan agenda jawaban dari pihak termohon yakni Bidang Hukum (Bidkum) Polda Jatim, mereka menyatakan keberatan atas permohonan praperadilan yang diajukan Asipah dengan cara mengajukan 9 alat bukti pada hakim tunggal Yan Manopo.

Setelah diperiksa, Yan Manopo memutuskan sidang akan dilanjutkan pada Selasa (5/3) dan pada hari Jumat sidang kembali dilanjutkan dengan agenda keterangan saksi dari kedua belah pihak.

Sebelumnya, Penyidik Polda Jatim pada 25 Januari 2019 lalu telah menetapkan Asipah sebagai tersangka atas laporan Pujiono Sutikno, karena telah mengajukan dan menggunakan kwitansi pembelian yang dibubuhi tanda tangan palsu sewaktu beracara di pengadilan.

Palsunnya tanda tangan dalam Kwitansi pembelian itu sesuai dengan Hasil Lab Forensik Polda Jatim yang diregister dengan No.LAB. 4171/DTF/2010 bahwa tandatangan Abdurahman (penjual) tanah merupakan spurious Signature (tanda tangan palsu).

Sementara, kuasa hukum pemohon praperadilan, Hidayat menuturkan. Dalam keterangan labfor itu menurutnya tidak menentukan palsu atau tidak palsunya sebuah alat bukti berupa kwitansi, melainkan otentik atau tidak otentiknya sebuah tanda tangan.

“Didalam bunyinya hasil labfor itu tidak menyimpulkan asli atau tidak asli palsu atau tidak palsu hanya menyimpulkan bahwa tandatangan karangan atau non identik, padahal itu harus dibuktikan dulu siapa pelakunya.”Ujar Hidayat.

Terkait masalah ini, Hidayat menerangkan bahwa kliennya yakni Asipa dalam keterangan kwitansi itu berposisi sebagai pihak pembeli tanah yang disengketakan.

Adapun yang dinyatakan Hidayat bersebrangan dengan apa yang dikatakan Kuasa hukum pelapor (Pujiono), Yafety Waruwu. Menurutnya, tidak penting siapa pelaku yang membuat kwitansi palsu tersebut

“Siapapun yang membuat apakah dia siluman atau siapa, pokok perkaranya adalah bahwa kwitansi tersebut telah digunakan oleh Aspiati beberapa kali, diantaranya dijadikan sebagai alat bukti di Pengadilan.”papar Yafety Waruwu.

Pengajuan bukti berupa kwitansi itu menurut Yafety digunakan pihak tersangka seolah-olah sebagai dokumen asli sehingga merugikan pelapor baik itu kerugian Materiil maupun moril.

“Dalam hasil Labfor Polda Jatim, yang mengeluarkan adalah institusi Kepolisian Republik Indonesia yang legalitasnya sudah diakui dan tentunya isi dari pada Labfor itu tidak perlu diragukan lagi kebenarannya.”kata dia.

Sehingga, imbuh Advokat dari Garuda Law Firm ini “Perbuatan Asipa adalah final. Menggunakan kwitansi tersebut. Dan memenuhi unsur pidana sebagaimana telah diatur dan diancam dalam pasal 263 ayat 2 KUHP.”paparnya.

Selain dijadikan alat bukti di Pengadilan, Kwitansi tersebut juga telah digunakan oleh tersangka sebagai bukti untuk mengurus surat sporadik di kelurahan untuk meningkatkan status tanah dari petok D ke Sertifikat Hak Milik (SHM).

Laporan Pujiono Sutikono ke Polda Jatim tentang adanya penggunaan kwitansi dengan terlapor Asipah merupakan buntut dari kasus sengketa lahan antara keduanya.

Lahan yang disengketakan tersebut berada di Kelurahan Kalisari, Kecamatan Mulyorejo, Kota Surabaya, dengan luas 7.780 meter persegi.

Sengketa lahan yang masih berupa petok D tersebut terjadi pada tahun 2010. Ketika itu, Asipah menggugat Pujiono Sutikno di pengadilan atas penyerobotan lahan. Asipah menggugat berbekal kuitansi jual beli tanah yang diklaim sebagai miliknya.

Asipa mengaku membeli obyek tanah tersebut pada Abdurahman yang saat itu berupa petok D nomer 402 dan 473. Pembelian tanah itu dibuktikan Asipah menggunakan kwitansi keluaran tahun 1976. Belakangan diketahui bahwa pembubuhan tanda tangan dalam kwitansi tersebut adalah tanda tangan palsu.

Ironisnya, petok D yang diklaim milik Abdurahman tersebut ternyata tidak tercatat didalam buku Letter C Kelurahan Mulyosari, Surabaya. Melainkan, Petok D 402 tercatat atas nama Inggri Yani Wati, sedangkan Petok D Nomer 473 tercatat atas nama Sutrisno.@ [Jun]


Berita Terkait

Tags: ,
Categorised in:

No comment for Sidang Praperadilan Asipah Melawan Polda Jatim Berlanjut Di Pengadilan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.